Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori
Bahan Ajar Ini Disusun oleh Saifuddin Amrullah SMPN 2 Bandar
KALIMAT AKTIF DAN PASIF
1.Kalimat pasif adalah kalimat yang S-nya menjadi
penderita akibat perbuatan yang dinyatakan P
atau kalimat yang S dikenai pekerjaan
Contoh : Rambu-rambu dilanggar oleh pengemudi itu
Novel dibaca oleh Mamat
Bentuk pasif selain di- adalah :
a.Ter- (ter pasif pelaku tindakan harus dinyatakan
dengan kata depan ‘oleh’)
Mempunyai makna : sudah atau dapat di-
Contoh : Rambu-rambu itu tak terlihat olehku
(olehnya, oleh kami, dsb)
Rambu-rambu itu tak terlihat saya
(salah)
b.Ke-an
Mempunyai makna : kena atau melakukan sesuatu seperti
kata dasarnya.
Aku kehujanan di jalan
Rumah itu kemasukan maling
2.Kalimat aktif adalah kalimat yang S-nya menjadi pelaku
tindakan yang dinyatakan P
Jenis : Transitif (Kalimat yang Predikatnya
memerlukan O)
Contoh : Pengemudi itu melanggar
rambu-rambu lalu lintas
Intransitif (Kalimat yang P-nya tidak memerlukan
O tetapi Pelengkap atau Keterangan)
Contoh : Ibu memasak di dapur
Yani menyanyi dengan merdu
Deni bersepatu hitam
Ciri-ciri : Menggunakan awalan me- atau ber-
Mengubah pasif dan aktif
1Pindahkan O kalimat aktif menjadi S kalimat pasif
2Pindahkan S menjadi O
3Ubah awalan me- dengan di-
4Tempatkan oleh sebagai penanda pelaku
Mengubah pasif dan aktif dengan S kalimat aktifnya
berupa kata ganti (aku, saya, kami, engkau, dia, beliau)
1Ubah letak SPO
2Hapus awalan me- dari P
3Rapatkan S-P tanpa pemisah apapun
4Kata bantu seperti akan, dapat, tidak, diletakkan
sebelum S
5Ganti aku dengan ku, kau, engkau
Contoh :Kamu melanggar rambu-rambu itu menjadi
Rambu-rambu itu kamu/kau langgar
3.Predikat kalimat pasif/aktif yang berketerangan
Rumus :
Adik belum membaca novel ini (aktif)
Novel ini belum dibaca oleh adik (pasif)
Novel ini sudah kami baca (pasif betul)
Novel ini kami sudah baca (pasif salah)
Peraturan itu baru saja + saya + baca
Kendaraan itu akan + kami + pinjam dari kantor
PREDIKAT
Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi untuk
menjelaskan perbuatan subjek (S).
Predikat berdasar kata kerjanya dibagi menjadi 2, yaitu
:
1. Predikat dengan kata kerja transitif, yaitu
predikat yang membutuhkan O
2. Predikat dengan kata kerja intransitif, predikat
yang tidak membutuhkan O melainkan pelengkap (Pel) atau
keterangan (K)
Perhatikan contoh kalimat dengan predikat aktif
transitif berikut :
Ida mengunjungi Nenek / Nenek dikunjungi Ida
Rahul mencintai Anjali / Anjali dicintai Rahul
Kedua kalimat di atas dapat diubah ke dalam bentuk
pasif, sehingga dapat disimpulkan bahwa Predikat
Transitif adalah predikat yang membutuhkan O, dan dapat
diubah ke dalam bentuk pasif (di-).
Perhatikan contoh kalimat dengan predikat aktif
intransitif berikut :
Karung berisi beras
Cacing tergolong penyakit berbahaya
Kedua kalimat di atas tidak dapat diubah ke dalam bentuk
pasif, sehingga dapat disimpulkan bahwa Predikat
Intransitif adalah predikat yang membutuhkan kehadiran
Pel dan tidak dapat diubah ke dalam bentuk pasif.
Perbedaan O dengan Pel
1.O adalah bagian kalimat yang diletakkan setelah P kata
kerja transitif
Contoh :
a.Ibu menyiram bunga / Bunga disiram Ibu
b.Paman memotong kue itu
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, O selalu
berada di belakang P kata kerja transitif, berarti O
tersebut dapat berubah kedudukan menjadi S jika kalimat
tersebut dipasifkan. Pada contoh di atas, bunga dalam
kalimat aktif berkedudukan sebagai S sedang dalam
kalimat pasif berubah kedudukannya sebagai S.
Ciri-ciri O adalah :
1. Berbentuk nomina atau frase nomina (bunga,
sepeda, mobil mercy dsb.)
2. Berada di belakang P transitif
3. Dapat menjadi S dalam kalimat pasif
4. Kalimat transitif yang mengandung O tersebut
dapat diubah ke dalam bentuk pasif
5. O dapat diganti dengan bentuk –nya
6. Predikat yang diikuti biasanya berimbuhan me-
2. Pel adalah bagian kalimat yang diletakkan
setelah P intransitif atau diletakkan setelah O
Contoh :
1. Dia jatuh miskin
2. Berlian bertahta mutiara
3. Ibu bekerja membanting tulang
Dari contoh di atas Pel selalu berada di belakang P
intransitif, kalimat tersebut tidak dapat di ubah ke
dalam bentuk pasif. Pelengkap tidak dapat berubah
kedudukan menjadi S sebagaimana O, karena kalimat yang
mengandung Pel tidak dapat dipasifkan.
Ciri-ciri Pel adalah :
1. Berada di belakang P intransitif
2. Kalimat tidak dapat dipasifkan
3. Pel tidak dapat berubah menjadi S
4. Predikat biasanya berawalan selain me-, yaitu
ber-, ter- atau tidak berawalan sama sekali.
5. Pelengkap biasanya berbentuk ungkapan (lihat
contoh)
Beberapa contoh kalimat berpelengkap setelah terdapat O
:
a. Ibu menamai adikku Ana / Adikku dinamai Ibu Ana
b. Ayah memberi aku uang
c. Ibu membacakan nenek surat
Kalimat yang mempunyai dua O atau terdapat O dan Pel
disebut sebagai Kalimat Dwitransitif.
Karena terdapat O maka kalimat di atas bisa diubah
menjadi bentuk pasif, meskipun terdapat unsur Pelengkap.
Pelengkap kedudukannya tetap, tidak beralih fungsi.
Contoh dwitransitif dengan 2 objek :
Ayah membelikan adik mainan
Ayah memberi ibu uang
EDITING
Editing atau penyuntingan adalah menyiapkan naskah untuk
diterbitkan dengan memperhatikan susunan (sistematika)
penyajian, isi dan bahasa. Proses penyuntingan meliputi
penggunaan bahasa tulis baik yang berkaitan dengan
kaidah bahasa, diksi, kaidah penulisan dan ejaan.
Orang yang melakukannya disebut editor, penyunting atau
penyelia.
Petunjuk menyunting
Yang diperbaiki dalam proses penyuntingan adalah :
1. Ejaan atau penulisan
2. Penggunaan tanda baca
3. Penggunaan bahasa baku
4. Ketepatan diksi atau pilihan kata
5. Format bentuk kata dan penulisan yang benar.
WAWANCARA
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang
dilakukan 2 pihak (pewawancara dengan orang yang
diwawancarai).
Jenis wawancara :
1.Serta merta, adalah wawancara yang dilakukan secara
spontan dan dalam situasi alamiah (hubungan pewawancara
dengan objek berlangsung wajar, penyampaian pertanyaan
harus berjalanseperti dalam percakapan sehari-hari)
2.Petunjuk umum adalah wawancara dengan membuat kerangka
atau pokok masalah yang akan ditanyakan sebelumnya
3.Wawancara dengan seperangkat pertanyaan yang disiapkan
adalah wawancara yang urutan, kata-kata, serta cara
penyajian pertanyaan sudah ditetapkan atau dibakukan
terlebih dahulu. Pihak pewawancara hanya membacakan
pertanyaan yang telah dipersiapkan dahulu.
Tahap pelaksanaan wawancara :
1. Tahap pembukaan, yaitu perkenalan diri
pewawancara dan mengutarakan maksud atau tujuan
wawancara
2. Tahap inti, yaitu :
a. Mengajukan pertanyaan sistematis, singkat,
jelas, sesuai situasi dan kondisi
b. Mencatat masalah penting yang diperoleh secara
akurat
3. Tahap akhir yaitu mengakhiri dengan kesan yang
baik serta mengucapkan terima kasih kepada orang yang
diwawancarai
Hal yang perlu diperhatikan dalam mewawancarai :
1. Pewawancara harus mempunyai aturan dan kesopanan
2. Penampilan rapi, bersih, enak dipandang
3. Bahasa sopan, tidak menyinggung perasaan
4. Penggunaan kata sapaan yang sesuai untuk
menghormat
Persiapan wawancara :
1. Menentukan tema (misal : kegiatan OSIS)
2. Menentukan pokpir yang akan ditanyakan. Misal :
a. Kegiatan-kegiatan yang akan diadakan OSIS
menjelang 17 Agustus
b. Sumber dana
c. Pembentukan panitia
d. Kendala-kendala yang dihadapi
3. Menyusun daftar pertanyaan berdasar pokpir
(diubah menjadi kalimat tanya)
4. Meminta kesediaan orang yang diwawancarai
KALIMAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
1. Kalimat langsung adalah kalimat yang secara
cermat meniru ucapan atau ujaran orang lain
Contoh :
“ Apakah gurumu sehat ?
” tanya Amin
“ Jangan mendekat ! ”
bentak penjahat itu
2. Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang
melaporkan ucapan atau ujaran orang lain. Bagian kutipan
dalam kalimat tidak langsung ini semua berbentuk kalimat
berita.
Contoh :
Mereka mengatakan bahwa
persediaan beras menipis
Ayah mengatakan bahwa mulai
besok ia akan berhenti merokok
3. Perbedaan kalimat langsung dan tidak langsung
Langsung Tidak Langsung
1. Bertanda petik “……” dan koma
2. Intonasi bagian yang dikutip lebih tinggi dari
pada bagian lain
3. Tidak berkata tugas
4. Kalimat biasanya berbentuk berita, tanya atau
perintah
5. Kata ganti tidak berubah, contoh :
6. Ayah berkata, “Saya akan berangkat ke kantor.”
1. Tidak bertanda petik
2. Intonasi mendatar dan menurun pada akhir kalimat
3. Menggunakan kata tugas : bahwa, sebab, untuk,
supaya.
4. Hanya berbentuk berita
5. Kata ganti orang I berubah menjadi orang ke III.
Contoh:
6. Ayah mengatakan bahwa ia akan berangkat ke
kantor
KALIMAT MAJEMUK
1. Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai 1
pola kalimat (bisa diperluas tetapi tidak membentuk pola
baru)
Ciri-ciri kalimat tunggal :
a. Mempunyai 1 pola kalimat
b. Kalimat sederhana
c. Perluasan tidak membentuk pola baru
d. Perluasan hanya berfungsi sebagai atributif saja
Contoh :
Adik berangkat besok Adik Siska
akan berangkat besok pagi
Paman telah datang
2. Kalimat majemuk adalah penggabungan 2 kalimat
tunggal atau lebih sehingga membentuk kalimat baru yang
mengandung 2 atau lebih pola kalimat.
Contoh :
Ayahnya dermawan tetapi ibunya pelit
Budi membaca, Wati menulis
Cara perangkaian kalimat majemuk :
1. Implisit, yaitu tanpa menggunakan konjungsi,
tetapi dengan menggunakan koma
Contoh :
Aku mandi di sungai, ia mencuci baju di seberang
2. Eksplisit, yaitu dengan menggunakan kata hubung
Aku berwajah tampan sedangkan ia jelek
3. Ia tidak hanya mengambil uang itu bahkan
beberapa surat-surat penting
Jenis kalimat majemuk :
a) Kalimat majemuk setara adalah penggabungan 2
kalimat tunggal atau lebih yang tiap-tiap unsurnya
mempunyai kedudukan setara.
Contoh :
Ibu memasak di dapur
Ibu memasak di dapur sedangkan ayah membaca majalah
Ayah membaca majalah
Macam kalimat majemuk setara, beserta kata penghubungnya
:
1 KMS Gabungan (dan, lagi)
2 KMS Menguatkan (bahkan, malahan, apalagi, tambah
lagi)
3 KMS Memilih (atau, baik….maupun….)
4 KMS Pertentangan (tetapi, sedangkan, melainkan,
padahal)
5 KMS Berurutan (lalu, kemudian, sesudah itu,
setelah )
b) Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat
tunggal yang salah satu jabatan kalimatnya diperluas
sehingga membentuk pola kalimat baru. Selain itu juga
didefinisikan sebagai kalimat yang mempunyai induk dan
anak kalimat.
Macam kalimat majemuk bertingkat:
1 KMB dengan anak kalimat pengganti S
Contoh : Budi suka berjudi
Anak konglomerat itu suka berjudi
2 KMB pengganti P
Contoh : Dia pemabuk
Dia orang yang suka minum
3 KMB pengganti O
Contoh : Saya telah menyangka hal itu
Saya telah menyangka ia terlibat dalam kasus korupsi
4 KMB pengganti K
Contoh : Budi sedang tidur saat itu
5 Budi sedang tidur ketika kakek datang dari
Bandung
6 KMB hubungan pengandaian ( jika, seandainya,
andaikan, misalnya)
7 KMB perbandingan (bak, bagai, ibarat, seperti,
laksana, dari pada)
8 KMB sebab akibat ( karena, sebab)
9 KMB akibat sebab (sehingga, sampai, maka)
10 KMB cara (dengan)
11 KMB tujuan (agar, supaya, untuk, biar)
12 KMB penjelasan (ialah, bahwa, yaitu)
13 KMB pertentangan (meskipun, walaupun, biarpun,
sungguhpun)
14 KMB waktu (ketika, sejak, kala, sewaktu, saat)
15 KMB kuantitas dan kualitas ( sejauh, seluas,
sedalam, sekeras dsb.)
c) Kalimat majemuk campuran adalah gabungan kalimat
majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat
Macam :
1 Satu pola atasan, dua pola bawahan
Contoh : Saya suka gadis yang bermata bening dan
berambut panjang
1
2
Kami berkemah di lembah yang amat luas serta berpanorama
indah
2 Satu pola bawahan, dua pola atasan
Contoh : Ketika kakak mandi dan ibu
selesai memasak, ayah pulang
1
2
d) Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk
setara yang unsur-unsurnya dirapatkan
Macam :
1 KMR sama Subjek
Contoh : Gadis itu kalem, gadis itu pendiam
Gadis itu kalem dan pendiam
2 KMR Predikat
Contoh : Ayah berkumis, kakek berkumis
Ayah dan kakek berkumis
3 KMR Objek
Contoh : Kakek membaca buku, nenek merapikan buku
Kakek membaca buku dan nenek merapikannya
4 KMR Keterangan
Contoh : Kalau tidak mendung, Evi akan menonton
bioskop,
Kalau tidak mendung, aku ikut.
Kalau tidak mendung, Evi akan menonton bioskop dan aku
ikut
RESENSI
Resensi adalah sebuah karangan yang berisi ulasan
mengenai nilai sebuah karya/buku. Resensi dapat berarti
sebuah tulisan, ulasan, pembicaraan dan penilaian
tentang sebuah buku, film, atau pementasan drama.
Resensi : pertimbangan/perbincangan/ulasan
Tujuan resensi adalah mengulas dan menilai isi buku atau
film.
Yang diulas dalam resensi adalah :
1 Jenis buku (termasuk jenis fiksi atau ilmiah)
2 Format atau bentuk buku dan identitas buku
(judul, penerbit, pengarang, ukuran buku, halaman,
edisi, ilustrasi buku)
3 Isi dan bahasa (unsur-unsur intrinsik, struktur
kalimat, gaya bahasa, ungkapan, diksi, mudah tidaknya
dipahami)
4 Kesimpulan
Cara meresensi adalah:
1. Persiapan
a. Memilih buku
b. Membaca
c. Menghayati isi
d. Menilai
e. Menanggapi
f. Menyimpulkan
2. Pelaksanaan
a. Identitas buku
a) Judul buku
b) Jenis buku
c) Penulis/pengarang
d) Penerbit (nama penerbit, kota terbit, tahun,
edisi/cetakan)
e) Ukuran
f) Hal/tebal buku
b. Membuat sinopsis
c. Analisis dan penilaian
d. Kesimpulan
Struktur Resensi :
1. Pendahuluan (ada 6 informasi objektif) : judul,
penulis, penerbit, tahun, cetakan, tahun, tebal/halaman
buku
2. Isi :
Ulasan tentang judul/tema buku
Paparan singkat isi buku (mengacu pada daftar
isi]/gambaran tentang keseluruhan isi buku
Informasi latar belakang dan tujuan penulisan buku oleh
pengarang
Gaya penulisan/perbandingan bukudengan buku lain yang
bertema sama
3. Penutup (berisi penilaian buku secara
keseluruhan)
Kelebihan dan kekurangan buku
Memberi masukan, kritik kepada penulis/penerbit
Memberi pertimbangan kepada pembaca penting tidaknya
buku tersebut
Memberi saran penerbit akan perbaikan-perbaikan yang
perlu diadakan atas kelemahan yang ada
LAPORAN
Laporan adalah satu jenis karya tulis yang dibuat
setelah penelitian terhadap suatu bidang dilaksanakan.
Laporan dapat berarti jenis dokumen yang berisi paparan
peristiwa atau kegiatan yang telah dilakukan seseorang
atas dasar tanggung jawab yang telah dibebankan
kepadanya.
Jenis laporan :
1. Menurut bentuknya :
a. Formulir/blangko : diisi dengan uraian/angka dan
bersifat rutin (misalnya : absensi, kartu iuran,
tabungan, rapor)
b. Bentuk surat : laporan bentuk uraian panjang
c. Memorandum : laporan singkat/ringkas
2. Menurut cara penyampaian
Laporan lisan dan laporan tulisan
3. Menurut waktu pelaksanaan laporan
a. Laporan berkala/rutin
b. Laporan insidental/sewaktu-waktu
4. Menurut gaya penulisan
Laporan resmi dan tidak resmi
Ciri laporan yang baik :
1. Ditulis dengan bahasa yang baik dan jelas
sehingga tidak timbul salah pengertian.
2. Disertai dengan fakta yang akurat, relevan dan
meyakinkan
3. Informasi lengkap
4. Menarik dan enak dibaca
Struktur laporan
1. Halaman judul
2. Lembar persetujuan
3. Kata pengantar
4. Daftar isi
5. Ikhtisar atau bastrak
6. Pendahuluan
7. Isi
8. Kesimpulan dan saran
9. Daftar pustaka
Atau dapat tersusun sebagai berikut:
1. Hal judul (pokok dan topik laporan)
2. Kata pengantar (pengantar pihak penyusun dan
kalimat penyerahan)
3. Daftar isi (rekapitulasi hal-hal yang ada dalam
laporan)
4. Abstrak (ringkasan aspek-aspek yang dibahas
dalam laporan)
5. Pendahuluan
6. Isi (uraian kegiatan, waktu dan tempat, siapa
yang mengadakan, bagaimana pelaksanaannya, anggaran dsb)
7. Kesimpulan dan saran
8. Daftar pustaka
9. Lampiran-lampiran
LAPORAN KEGIATAN KUNJUNGAN
KE STUDIO RCTI JAKARTA
I. Nama/ jenis kegiatan :
II. Tujuan kegiatan :
III. Peserta kegiatan
:
IV. Pelaksanaan kegiatan :
Kegiatan kunjungan dilaksanakan pada
Hari dan tanggal
:
Berangkat pukul :
Pulang pukul
:
Sarana angkutan :
V Pembayaran dan penggunaan dana :
A. Sumber dana
1. Osis SLTP :
2. BP3 :
3. Peserta :
Jumlah :
B. Penggunaan Dana
1. Administrasi :
2. Sewa Bus :
3. Konsumsi :
4. Dokumentasi :
5. Lain-lain :
Jumlah :
VI. Hasil kunjungan
:
…………………..
Ketua Panitia
PENALARAN ARGUMENTASI
Penalaran argumentasi terbagi menjadi dua cara :
1. Penalaran secara induksi, adalah proses berpikir
dengan mengemukakan hal-hal khusus atau bagian-baian
menuju pada kesimpulan yang bersifat umum
Ada tiga jenis :
a. Generalisasi, mengemukakan peristiwa khusus
menuju pada kesimpulan umum / induksi.
b. Analogi, proses menghubungkan suatu peristiwa
dengan peristiwa lain yang mempunyai persamaan dalam
berbagai segi.
Contoh : kalau kita perhatikan kursi yang kita duduki
setiap hari tentu ada yang menciptakan. Mobil yang
sering kita tumpangi ada yang mencipta. Semua kejadian
ada yang menjadikan. Demikian juga manusia. Manusia
pasti ada yang menjadikan. Manusia menciptakan kursi,
meja, mobil dan sebagainya menunjukkan bahwa dirinya
memiliki kemampuan dan kekuasaan. Mahabesar pencipta
manusia yang maha memiliki kemampuan serta kekuasaan
c. Sebab akibat, mengemukakan peristiwa-peristiwa
hingga sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa-peristiwa
yang dikemukakan tersebut merupakan sebab dari suatu
keadaan atau sebaliknya bahwa peristiwa-peristiwa itu
merupakan akibat dari keadaan tertentu
2. Penalaran secara deduksi, adalah proses berpikir
dari hal-hal yang bersifat umum menuju pada
bagian-bagian atau hal yang bersifat khusus.
Ada 2 :
a. Silogisme adalah penarikan kesimpulanberdasarkan
pada suatu premis (pernyataan)
Premis ada dua :
(1) Premis umum/mayor, semua anggota
golongan tertentu mempunyai sifat atau hal tertentu
(2) Khusus /minor, seseorang atau sesuatu
adalah anggota golongan tertentu / hal tersebut.
Jenis silogisme :
(1) Silogisme positif, contoh :
P1=a-b Semua calon haji
membayar ONH
P2=c-a Pak Amin calon haji
K =c-b Pak Amin membayar ONH
(2) Silogisme negatif, bila salah satu premis
bersifat negatif , contoh:
P1= Semua pemilik motor tidak mendapatkan bensin
P2= Alung pemilik motor
K = Alung tidak mendapatkan bensin
(3) Silogisme salah, apabila premis tidak
dapat dipertanggungjawabkan atau tidak memenuhi syarat.
b. Entimem adalah silogisme yang diperpendek. Rumus
c=b karena c=a
Contoh : c = Dery, b = Tidak mau membolos, c =
Siswa yang baik
Deri tidak mau membolos karena
dia siswa yang baik
C B
C A
Memo
Memo singkatan dari memorandum (Surat singkat yang
digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu)
Pengertian Memo adalah surat peringatan tidak resmi yang
berisi pesan ringkas untuk berbagai keperluan. Memo
dapat berarti surat yang berisi catatan-catatan singkat
tentang pokok-pokok persoalan.
Jenis memo ada 2 :
1. Memo yang bersifat dinas
2. Memo yang bersifat pribadi
PARTIKEL
Partikel adalah semacam imbuhan yang dalam ucapan tidak
memiliki tekanan sendiri dan tidak merupakan kata karena
tidak berdiri sendiri.
Macam partikel dari klitika :
1. Lah, berfungsi : untuk menghaluskan perintah,
atau berfungsi menegaskan. Selain tiu digunakan untuk
membedakan.
Contoh : Pakailah ! Tataplah ! Dialah ! Andilah yang
datang (bukan orang lain)
2. Kah, berfungsi : untuk memberi tekanan pada
kalimat tanya, menyatakan hal tak tentu
Contoh : Haruskah aku melakukannya ? Mahalkah atau tidak
aku tak peduli !
3. Tah
4. Pun, berfungsi : untuk mengeraskan arti kata,
dipakai bersama –lah. Pun terpisah dari kata di depannya
(saya pun, kami pun dst.) tetapi ditulis serangkai
dengan kata hubung (walaupun, meskipun, sungguhpun
dst.). Pun juga berfungsi untuk menyamakan (Andi pergi,
Susi pun pergi )
Contoh : Kami pun merasa bersalah
Matahari pun terbitlah
Ada partikel yang berasal dari kata depan :
Atas, tentang, akan,
kepada, bagi, dari, dan lain-lain.
Fungsinya adalah :
1. untuk mempererat hubungan kata kerja dengan kata
benda di belakangnya
2. untuk memberi penjelasan
3. hanya pada kalimat aktif intransitif
4. sebagai pengantar pelengkap ( dibelakang
partikel adalah pelengkap, karena termasuk kalimat aktif
intransitif)
contoh : Aku tidak percaya akan setiap
janjinya
S
P PEL
Contoh : Anak-anak haus akan hiburan
terkenang akan
Ibu sayang akan
anak-anaknya berdiskusi tentang
Iwan setuju dengan usul
adik tidak percaya pada
Ia marah kepada saya
berterima kasih atas
Partikel ( lah, kah, tah ) ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya.
Contoh : bacalah, adalah, apakah, siapakah, apatah dst
Partikel -pun terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh : satu kali pun, adik pun, ia pun, apa pun
Pun yang lazim dipadukan adalah : adapun, andaipun,
ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun,
maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun
Per yang berarti mulai, demi, tiap, ditulis terpisah
dengan kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh : per 1 April, satu per satu, per helai
RAGAM BAHASA
Ragam bahasa ada beberapa macam, yaitu :
Ragam bahasa pers (jurnalistik), ciri-ciri :
1. Singkat, padat, menarik, jelas
2. Terdapat kata-kata aktual
Bahasa sastra
1. Konotatif
2. Multi interpretasi
3. Subjektif
4. Bahasa indah
Bahasa ilmu pengetahuan
1. Denotatif
2. 1 penafsiran
3. Objektif
4. Bahasa lugas
Bahasa iklan
1. Singkat, padat, menarik
2. Menggunakan gaya bahasa hiperbola
3. Mengandung sugesti, kalimat pendek
4. Mudah dipahami (kalimat efektif)
5. Bersifat paparan
FUNGSI BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia dalam peranannya sebagai bahasa
persatuan mempunyai dua fungsi pokok :
1. Secara umum dan khusus
Secara khusus, mempunyai fungsi :
1. Praktis (alat komunikasi antarmasyarakat)
2. Estetis (alat pengungkap seni)
3. Sains (alat pengembang ilmu dan teknologi)
4. Filosofis (alat untuk menggali kebudayaan)
Secara umum, mempunyai fungsi :
1 Alat untuk menjalankan administrasi negara
2 Alat untuk mempersatukan suku
3 Wadah pembinaan sains dan teknologi
Sebagai bahasa negara dan bahasa nasional
Sebagai bahasa nasional:
1. Lambang kebanggaan nasional
2. Lambang identitas nasional
3. Alat pemersatu suku bangsa
4. Alat perhubungan antardaerah
Sebagai bahasa negara :
1. Bahasa resmi kenegaraan
2. Bahasa pengantar dunia pendidikan
3. Alat perhubungan tingkat nasional
4. Alat pengembangan budaya dan teknologi
PENANDA HUBUNGAN
Penanda hubungan mempunyai fungsi : memadukan antara
kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam satu
paragraf.
Macam penanda hubungan :
1. Menyatakan penunjukkan (penggunaan kata untuk
menunjuk atau mengacu kata lain).
Contoh : ini, itu, tersebut, tadi, di atas, berikut ini,
……maka belajar itu penting
2. Penggantian (dengan kata ganti orang,
klitika-nya, atau kata-kata seperti : ini, itu, sini,
situ, sana, begini, demikian dsb.)
Contoh :Nina anak pandai, ia berkuliah di UGM, tinggal
bersama kakaknya.
3. Pelesapan / elipsis (penghilangan unsur kalimat
yang tersurat pada kalimat berikutnya)
Contoh : Ahmad akan naik haji. Sesudahnya (Ahmad) akan
singgah di Singapura
4. Perangkaian (dinyatakan dengan kata-kata yang
merangkaikan kalimat satu dengan kalimat yang lain)
Contoh : perihal, sebaliknya, jadi, maka,
akibatnya, selain itu dan sebagainya.
Tutik tidak sarapan, akibatnya ia pingsan
IKLAN
Iklan adalah suatu pemberitahuan dari seseorang atau
badan usaha yang ditujukan kepada khalayak ramai
mengenai barang dan jasa yang dijual melalui media
massa. Iklan dapat berarti media informasi yang menarik
perhatiandan berfungsi untuk mengajak dengan menonjolkan
kata-kata.
Fungsi iklan adalah :
1. sebagai alat promosi
2. sebagai alat komunikasi
3. sebagai alat informasi
Jenis iklan :
1 Iklan pengumuman (untuk mengumumkan informasi
tertentu kepada masyarakat)
Contoh : reuni, pentas, lomba, bazar, diskon
besar-besaran dsb.
2 Iklan penawaran / reklame (untuk menawarkan
barang atau jasa)
Contoh : iklan sabun, rokok, kendaraan dsb.
3 Iklan permintaan (untuk mencari tenaga kerja
atau kebutuhan barang dan jasa kepada masyarakat)
Contoh : iklan lowongan kerja, dicari, dibutuhkan,
membuka lowongan dsb.
Ragam bahasa iklan :
1. Menarik, singkat, jelas dan tepat
2. Bahasa superlatif dengan ungkapan hiperbola
(paling, ter-, super, maha dsb)
3. Kalimat pendek, mengandung sugesti
4. Mudah dipahami (efektif)
POSTER
Poster adalah : surat tempel atau plakat yang dipasang
ditempat umum berupa pengumuman atau penawaran. Poster
berasal dari bahasa Inggris bersinonim dengan kata
placard, dalam bahasa Belanda disebut dengan plakkat
atau dalam bahasa Indonesia berarti surat tempel.
Tujuan membuat poster adalah :
1. Untuk menawarkan barang (poster rokok, permen
dsb)
2. Menghimbau atau memberitahu masyarakat (pajak,
kenaikan BBM, iuran, pemberitahuan dsb)
3. Mendidik masyarakat (jauhi narkoba, ikutlah
ber-KB)
Macam Poster :
1 Layanan masyarakat (penjelasan yang membentuk
kesadaran masyarakat tentang suatu hal yang menyangkut
kepentingan bersama). Contoh : pajak, KB dsb.
2 Informasi/ pengumuman (berisi kegiatan,
peristiwa yang akan dilaksanakan). Contoh : bazar,
lomba, pentas
3 Niaga (menawarkan barang dan jasa). Contoh :
iklan rokok, roti, permen, bank dsb.
Langkah menyusun poster :
1 Tentukan subjek (apa yang diposterkan)
2 Merumuskan pesan yang hendak disampaikan kepada
umum
3 Susun kalimat dengan singkat, padat, dan jelas
(inti masalah dapat dibaca sambil lalu)
4 Gunakan kata-kata membujuk / sugestif
SLOGAN
Perkataan atau kalimat pendek yang menarik dan mudah
diingat untuk memberitahukan sesuatu
Contoh : TVRI menjalin persatuan dan kesatuan
BNI kunci segala situasi
Pegadaian mengatasi masalah
tanpa masalah
SCTV ngetop !
IMBAUAN
Seruan atau ajakan kepada masyarakat luas untuk
melakukan sesuatu
Contoh : mari menabung
Sukseskan Wajar 9 tahun
Jagalah kebersihan
Gunakan BBM engan bijak
PIDATO
Pidato adalah salah satu bentuk komunikasi lisan untuk
menyampaikan pesan atau gagasan kepada pendengar.
Unsur pidato adalah :
1 Pembicara
2 Materi/bahan pidato
3 Audiens
Metode pidato :
1 Spontanitas / serta merta / impromtu : jenis
pidato tanpa persiapan/improvisasi
2 Ekstemporan : membuat catatan hal-hal penting,
atau membuat kerangka
3 Hafalan : menghafal naskah
4 Naskah : membaca teks, tidak terdapat interaksi
kontak sehingga membosankan
Macam pidato :
1 Persuasi (mengajak pendengar melaksanakan
sesuatu)
2 Bertindak (pidato persuasif berupa tindakan
nyata yang diinginkan)
3 Argumentasi (untuk meyakinkan pendengar agar
membenarkan pendapat pembicara)
4 Informasi (pidato untuk memberitahukan suatu
hal)
5 Rekreatif (pidato menghibur pendengar)
Hal-hal yang diperhatikan dalam berpidato :
1 Sikap (tenang, tatap mula, atur mimik)
2 Suara (sesuai dimensi ruang)
3 Bahasa (dapat dipahami, variatif)
4 Gaya(wajar, sopa, bersahabat)
Langkah dalam menyusun pidato :
1 Maksud atau tujuan
2 Analisis calon pendengar
3 Pilih dan pusatkan pokok masalah natau topik
4 Kumpulkan bahan
5 Buat kerangka pidato
6 Mengembangkan kerangka
7 Latihan mimik, vokal, gesture dan penyajian
Sistematika Pidato :
a. Salam pembuka
b. Sapaan kepada yang hadir
Pembukaan
c. Ucapan syukur
d. Tujuan/isi/manfaat
Inti Pidato
e. Harapan
f. Ucapan terima kasih
g. Permohonan maaf bila ada ucapan yang salah
Penutup
h. Salam penutup
Tujuan pidato :
1. Memberitahukan sesuatu kepada pendengar
(menginformasikan)
2. Menghibur audien
3. Mempengaruhi pendapat dan mengajak/membujuk
pendengar
4. Memotivasi, memberi semangat/dorongan moral
kepada pendengar
5. Meyakinkan pendengar
6. Mengajak melakukan tindakan /menggerakkan
pendengar
IMBUHAN
Imbuhan Ke-
Fungsi :
1 Membentuk kata bilangan tingkat ( kedua, ketiga,
ketujuh, kesepuluh)
2 Membentuk k.bil kumpulan ( kesebelas orang itu
terluka)
3 Membentuk k. benda ( kekasih, ketua, kehendak)
Nosi :
1 Menyatakan yang di- (kekasih, ketua, kehendak)
2 Menyatakan tingkat atau himpunan.
Imbuhan Pe-
Fungsi : Membentuk kata benda
Bentuk : pen-, peng, peny, pe, pem
Nosi :
1 Orang yang bekerja (petani, pelayan, pengarang,
penanam)
2 Alat (peneropong, penutup, pemancar, perasa)
3 Mempunyai sifat ( pemalu, pemarah, penakut)
4 Orang yang gemar (perokok, peminum, pemadat,
pecandu, pemabuk)
5 Yang menyebabkan (penyakit, pengharum,
penghalus)
Pe- tidak berubah didepan huruf : l, r, w, y, m, n (
pelari, perakit, pewaris, pemakan, penasihat)
Imbuhan Se-
Fungsi :
1 Sebagai kata keterangan (semalam ia datang)
2 Sebagai kata sambung (sesudah makan ia pergi)
3 Tidak mengubah jenis kata
Nosi :
1 Satu (sebuah, sehari, setelah, sekelompok,
sebatang, seorang)
2 Seluruh (se-Indonesia, sekampung, sedunia)
3 Sama dengan (sepandai, secantik, setinggi)
4 Sebanyak (semaumu, setahuku, sebisaku,
seingatku, semampuku)
5 Setelah (sesampai, seusai, sekembali, sekembali,
sepulang)
Imbuhan Me-
Fungsi : membentuk kata kerja transitif dan intransitif
Nosi :
1. Transitif :
1 Melakukan suatu perbuatan (menikam, mencium,
menanam, menyanyi, menulis)
2 Perbuatan dengan alat seperti kata dasar
(mencangkul, memarang, menyapu, menyabit, menombak)
3 Menghasilkan seperti kata dasar ( menyambal,
melotis, merujak)
2. Intransitif :
1. Mengerjakan sesuatu (menari, menyanyi,
merangkai, mendidik)
2. Menghasilkan (menelur, meringkik, mengeluh,
mendesah, dsb.)
3. Berbuat seperti (membatu, membabi buta, memerah,
menyatu)
4. Menghisap/ minum ( merokok, mengopi)
5. Dalam keadaan ( mengantuk, menganga )
6. Menuju ke arah (menepi, mendarat, menjauh)
7. Mencari / mengumpulkan (merotan, mendamar)
8. Memperingati (menujuh hari)
9. Menjadi (meninggi, memerah, mengencang,
mengeras, menghebat)
RANGKUMAN
Rangkuman yaitu : menyajikan kembali isi sebuah bacaan
secara singkat dengan kata-kata sendiri
Manfaat :
1. Mempermudah mengetahui isi sebuah bacaan
2. Memperpendek waktu jika akan membaca ulang
sebuah bacaan
3. Membantu jika memerlukan cara praktis dan cepat
Langkah-langkah :
1. Membaca secara keseluruhan bacaan yang akan
dirangkum
2. Mencari pikiran utama setiap paragraf
3. Menyusun kembali pikiran utama yang telah
ditemukan menjadi sebuah karangan
Hal-hal yang diperhatikan dalam menyusun rangkuman :
1. Sebaiknya dalam merangkum menggunakan kalimat
tunggal
2. Panjang rangkuman dapat disesuaikan dengan
panjang pendek bacaan yang dirangkum
3. Gagasan asli pengarang/penulis arus
dipertahankan
4. Penyusun rangkuman tidak boleh memasukkan
gagasan baru kedalam rangkumannya.
FAKTA DAN OPINI
Fakta yaitu : sesuatu hal yang nyata / peristiwa yang
benar-benar ada dan terjadi (segala hal yang
kebenarannya tidak disangsikan lagi.
Contoh :
Daerah pegunungan berhawa sejuk
Ombak pantai selatan sangat besar
Presiden Susilo Bambang Yudoyono berasal dari Pacitan
Opini yaitu : pendapat, pikiran seseorang mengenai suatu
hal yang belum tentu / belum pasti benar dan terjadi (
segala hal yang kebenarannya masih diragukan / belum
pasti ]
Ciri-ciri : agaknya, kira-kira, diharapkan, dapat ,
mungkin, tidak mustahil, barangkali, akan dsb.
ISTILAH
Istilah yaitu kata atau gabungan kata untuk
mengungkapkan suatu konsep, proses, keadaan, sifat yang
khas dalam bidang tertentu.
Contoh : hobi, fiksi, anjangsana, aklamasi, fiksi
Perbedaan kata dengan istilah :
Kata Istilah
Bermakna ganda
Bergantung pada konteks
Dapat terikat konotasi
Tiap daerah berbeda Bermakna satu (tunggal)
Tidak bergantung konteks
Netral
Dikenal secara umum/internasional
KATA KAJIAN (KATA ILMIAH) DAN KATA POPULER
Kata kajian (kata ilmiah) : kata yang biasa dipakai
untuk kepentingan kajian keilmuan (kata yang dipakai
dikalangan terbatas/ kalangan keilmuan)
Biasanya digunakan dalam laporan, skripsi, tesis,
desertasi
Contoh : rangking, evaluasi, volume, argumen, karakter
Kata populer : kata yang dikenal dan dipakai dalam
masyarakat luas
Contoh : peringkat, menilai, isi, pendapat, perangai.
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>