SMPN 2 BANDAR PACITAN


Bahan Ajar
November 20, 2008, 4:01 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Bahan Ajar Ini Disusun oleh Saifuddin Amrullah SMPN 2 Bandar
KALIMAT AKTIF DAN PASIF

1.Kalimat pasif adalah kalimat yang S-nya menjadi

penderita akibat perbuatan yang dinyatakan P
atau kalimat yang S dikenai pekerjaan
Contoh : Rambu-rambu dilanggar oleh pengemudi itu
Novel dibaca oleh Mamat

Bentuk pasif selain di- adalah :
a.Ter- (ter pasif pelaku tindakan harus dinyatakan

dengan kata depan ‘oleh’)
Mempunyai makna : sudah atau dapat di-
Contoh : Rambu-rambu itu tak terlihat olehku

(olehnya, oleh kami, dsb)
Rambu-rambu itu tak terlihat saya

(salah)
b.Ke-an
Mempunyai makna : kena atau melakukan sesuatu seperti

kata dasarnya.
Aku kehujanan di jalan
Rumah itu kemasukan maling

2.Kalimat aktif adalah kalimat yang S-nya menjadi pelaku

tindakan yang dinyatakan P
Jenis : Transitif (Kalimat yang Predikatnya

memerlukan O)
Contoh : Pengemudi itu melanggar

rambu-rambu lalu lintas

Intransitif (Kalimat yang P-nya tidak memerlukan

O tetapi Pelengkap atau Keterangan)
Contoh : Ibu memasak di dapur
Yani menyanyi dengan merdu

Deni bersepatu hitam
Ciri-ciri : Menggunakan awalan me- atau ber-

Mengubah pasif dan aktif
1Pindahkan O kalimat aktif menjadi S kalimat pasif
2Pindahkan S menjadi O
3Ubah awalan me- dengan di-
4Tempatkan oleh sebagai penanda pelaku

Mengubah pasif dan aktif dengan S kalimat aktifnya

berupa kata ganti (aku, saya, kami, engkau, dia, beliau)
1Ubah letak SPO
2Hapus awalan me- dari P
3Rapatkan S-P tanpa pemisah apapun
4Kata bantu seperti akan, dapat, tidak, diletakkan

sebelum S
5Ganti aku dengan ku, kau, engkau

Contoh :Kamu melanggar rambu-rambu itu menjadi
Rambu-rambu itu kamu/kau langgar
3.Predikat kalimat pasif/aktif yang berketerangan
Rumus :
Adik belum membaca novel ini (aktif)
Novel ini belum dibaca oleh adik (pasif)

Novel ini sudah kami baca (pasif betul)
Novel ini kami sudah baca (pasif salah)

Peraturan itu baru saja + saya + baca
Kendaraan itu akan + kami + pinjam dari kantor

PREDIKAT

Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi untuk

menjelaskan perbuatan subjek (S).
Predikat berdasar kata kerjanya dibagi menjadi 2, yaitu

:
1. Predikat dengan kata kerja transitif, yaitu

predikat yang membutuhkan O
2. Predikat dengan kata kerja intransitif, predikat

yang tidak membutuhkan O melainkan pelengkap (Pel) atau

keterangan (K)

Perhatikan contoh kalimat dengan predikat aktif

transitif berikut :
Ida mengunjungi Nenek / Nenek dikunjungi Ida
Rahul mencintai Anjali / Anjali dicintai Rahul
Kedua kalimat di atas dapat diubah ke dalam bentuk

pasif, sehingga dapat disimpulkan bahwa Predikat

Transitif adalah predikat yang membutuhkan O, dan dapat

diubah ke dalam bentuk pasif (di-).

Perhatikan contoh kalimat dengan predikat aktif

intransitif berikut :
Karung berisi beras
Cacing tergolong penyakit berbahaya

Kedua kalimat di atas tidak dapat diubah ke dalam bentuk

pasif, sehingga dapat disimpulkan bahwa Predikat

Intransitif adalah predikat yang membutuhkan kehadiran

Pel dan tidak dapat diubah ke dalam bentuk pasif.

Perbedaan O dengan Pel
1.O adalah bagian kalimat yang diletakkan setelah P kata

kerja transitif
Contoh :
a.Ibu menyiram bunga / Bunga disiram Ibu
b.Paman memotong kue itu

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, O selalu

berada di belakang P kata kerja transitif, berarti O

tersebut dapat berubah kedudukan menjadi S jika kalimat

tersebut dipasifkan. Pada contoh di atas, bunga dalam

kalimat aktif berkedudukan sebagai S sedang dalam

kalimat pasif berubah kedudukannya sebagai S.

Ciri-ciri O adalah :
1. Berbentuk nomina atau frase nomina (bunga,

sepeda, mobil mercy dsb.)
2. Berada di belakang P transitif
3. Dapat menjadi S dalam kalimat pasif
4. Kalimat transitif yang mengandung O tersebut

dapat diubah ke dalam bentuk pasif
5. O dapat diganti dengan bentuk –nya
6. Predikat yang diikuti biasanya berimbuhan me-

2. Pel adalah bagian kalimat yang diletakkan

setelah P intransitif atau diletakkan setelah O
Contoh :
1. Dia jatuh miskin
2. Berlian bertahta mutiara
3. Ibu bekerja membanting tulang

Dari contoh di atas Pel selalu berada di belakang P

intransitif, kalimat tersebut tidak dapat di ubah ke

dalam bentuk pasif. Pelengkap tidak dapat berubah

kedudukan menjadi S sebagaimana O, karena kalimat yang

mengandung Pel tidak dapat dipasifkan.

Ciri-ciri Pel adalah :
1. Berada di belakang P intransitif
2. Kalimat tidak dapat dipasifkan
3. Pel tidak dapat berubah menjadi S
4. Predikat biasanya berawalan selain me-, yaitu

ber-, ter- atau tidak berawalan sama sekali.
5. Pelengkap biasanya berbentuk ungkapan (lihat

contoh)

Beberapa contoh kalimat berpelengkap setelah terdapat O

:
a. Ibu menamai adikku Ana / Adikku dinamai Ibu Ana
b. Ayah memberi aku uang
c. Ibu membacakan nenek surat

Kalimat yang mempunyai dua O atau terdapat O dan Pel

disebut sebagai Kalimat Dwitransitif.
Karena terdapat O maka kalimat di atas bisa diubah

menjadi bentuk pasif, meskipun terdapat unsur Pelengkap.

Pelengkap kedudukannya tetap, tidak beralih fungsi.
Contoh dwitransitif dengan 2 objek :
Ayah membelikan adik mainan
Ayah memberi ibu uang

EDITING

Editing atau penyuntingan adalah menyiapkan naskah untuk

diterbitkan dengan memperhatikan susunan (sistematika)

penyajian, isi dan bahasa. Proses penyuntingan meliputi

penggunaan bahasa tulis baik yang berkaitan dengan

kaidah bahasa, diksi, kaidah penulisan dan ejaan.

Orang yang melakukannya disebut editor, penyunting atau

penyelia.

Petunjuk menyunting
Yang diperbaiki dalam proses penyuntingan adalah :

1. Ejaan atau penulisan
2. Penggunaan tanda baca
3. Penggunaan bahasa baku
4. Ketepatan diksi atau pilihan kata
5. Format bentuk kata dan penulisan yang benar.

WAWANCARA

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang

dilakukan 2 pihak (pewawancara dengan orang yang

diwawancarai).

Jenis wawancara :
1.Serta merta, adalah wawancara yang dilakukan secara

spontan dan dalam situasi alamiah (hubungan pewawancara

dengan objek berlangsung wajar, penyampaian pertanyaan

harus berjalanseperti dalam percakapan sehari-hari)
2.Petunjuk umum adalah wawancara dengan membuat kerangka

atau pokok masalah yang akan ditanyakan sebelumnya
3.Wawancara dengan seperangkat pertanyaan yang disiapkan

adalah wawancara yang urutan, kata-kata, serta cara

penyajian pertanyaan sudah ditetapkan atau dibakukan

terlebih dahulu. Pihak pewawancara hanya membacakan

pertanyaan yang telah dipersiapkan dahulu.

Tahap pelaksanaan wawancara :
1. Tahap pembukaan, yaitu perkenalan diri

pewawancara dan mengutarakan maksud atau tujuan

wawancara
2. Tahap inti, yaitu :
a. Mengajukan pertanyaan sistematis, singkat,

jelas, sesuai situasi dan kondisi
b. Mencatat masalah penting yang diperoleh secara

akurat
3. Tahap akhir yaitu mengakhiri dengan kesan yang

baik serta mengucapkan terima kasih kepada orang yang

diwawancarai

Hal yang perlu diperhatikan dalam mewawancarai :
1. Pewawancara harus mempunyai aturan dan kesopanan
2. Penampilan rapi, bersih, enak dipandang
3. Bahasa sopan, tidak menyinggung perasaan
4. Penggunaan kata sapaan yang sesuai untuk

menghormat

Persiapan wawancara :
1. Menentukan tema (misal : kegiatan OSIS)
2. Menentukan pokpir yang akan ditanyakan. Misal :
a. Kegiatan-kegiatan yang akan diadakan OSIS

menjelang 17 Agustus
b. Sumber dana
c. Pembentukan panitia
d. Kendala-kendala yang dihadapi
3. Menyusun daftar pertanyaan berdasar pokpir

(diubah menjadi kalimat tanya)
4. Meminta kesediaan orang yang diwawancarai

KALIMAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

1. Kalimat langsung adalah kalimat yang secara

cermat meniru ucapan atau ujaran orang lain
Contoh :
“ Apakah gurumu sehat ?

” tanya Amin
“ Jangan mendekat ! ”

bentak penjahat itu

2. Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang

melaporkan ucapan atau ujaran orang lain. Bagian kutipan

dalam kalimat tidak langsung ini semua berbentuk kalimat

berita.
Contoh :
Mereka mengatakan bahwa

persediaan beras menipis
Ayah mengatakan bahwa mulai

besok ia akan berhenti merokok
3. Perbedaan kalimat langsung dan tidak langsung

Langsung Tidak Langsung
1. Bertanda petik “……” dan koma
2. Intonasi bagian yang dikutip lebih tinggi dari

pada bagian lain
3. Tidak berkata tugas

4. Kalimat biasanya berbentuk berita, tanya atau

perintah
5. Kata ganti tidak berubah, contoh :
6. Ayah berkata, “Saya akan berangkat ke kantor.”
1. Tidak bertanda petik
2. Intonasi mendatar dan menurun pada akhir kalimat
3. Menggunakan kata tugas : bahwa, sebab, untuk,

supaya.
4. Hanya berbentuk berita
5. Kata ganti orang I berubah menjadi orang ke III.

Contoh:
6. Ayah mengatakan bahwa ia akan berangkat ke

kantor

KALIMAT MAJEMUK

1. Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai 1

pola kalimat (bisa diperluas tetapi tidak membentuk pola

baru)
Ciri-ciri kalimat tunggal :
a. Mempunyai 1 pola kalimat
b. Kalimat sederhana
c. Perluasan tidak membentuk pola baru
d. Perluasan hanya berfungsi sebagai atributif saja
Contoh :
Adik berangkat besok Adik Siska

akan berangkat besok pagi
Paman telah datang

2. Kalimat majemuk adalah penggabungan 2 kalimat

tunggal atau lebih sehingga membentuk kalimat baru yang

mengandung 2 atau lebih pola kalimat.
Contoh :
Ayahnya dermawan tetapi ibunya pelit
Budi membaca, Wati menulis

Cara perangkaian kalimat majemuk :
1. Implisit, yaitu tanpa menggunakan konjungsi,

tetapi dengan menggunakan koma
Contoh :
Aku mandi di sungai, ia mencuci baju di seberang
2. Eksplisit, yaitu dengan menggunakan kata hubung
Aku berwajah tampan sedangkan ia jelek
3. Ia tidak hanya mengambil uang itu bahkan

beberapa surat-surat penting

Jenis kalimat majemuk :
a) Kalimat majemuk setara adalah penggabungan 2

kalimat tunggal atau lebih yang tiap-tiap unsurnya

mempunyai kedudukan setara.

Contoh :
Ibu memasak di dapur
Ibu memasak di dapur sedangkan ayah membaca majalah
Ayah membaca majalah

Macam kalimat majemuk setara, beserta kata penghubungnya

:
1 KMS Gabungan (dan, lagi)
2 KMS Menguatkan (bahkan, malahan, apalagi, tambah

lagi)
3 KMS Memilih (atau, baik….maupun….)
4 KMS Pertentangan (tetapi, sedangkan, melainkan,

padahal)
5 KMS Berurutan (lalu, kemudian, sesudah itu,

setelah )

b) Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat

tunggal yang salah satu jabatan kalimatnya diperluas

sehingga membentuk pola kalimat baru. Selain itu juga

didefinisikan sebagai kalimat yang mempunyai induk dan

anak kalimat.
Macam kalimat majemuk bertingkat:
1 KMB dengan anak kalimat pengganti S
Contoh : Budi suka berjudi
Anak konglomerat itu suka berjudi
2 KMB pengganti P
Contoh : Dia pemabuk
Dia orang yang suka minum
3 KMB pengganti O
Contoh : Saya telah menyangka hal itu
Saya telah menyangka ia terlibat dalam kasus korupsi
4 KMB pengganti K
Contoh : Budi sedang tidur saat itu
5 Budi sedang tidur ketika kakek datang dari

Bandung
6 KMB hubungan pengandaian ( jika, seandainya,

andaikan, misalnya)
7 KMB perbandingan (bak, bagai, ibarat, seperti,

laksana, dari pada)
8 KMB sebab akibat ( karena, sebab)
9 KMB akibat sebab (sehingga, sampai, maka)
10 KMB cara (dengan)
11 KMB tujuan (agar, supaya, untuk, biar)
12 KMB penjelasan (ialah, bahwa, yaitu)
13 KMB pertentangan (meskipun, walaupun, biarpun,

sungguhpun)
14 KMB waktu (ketika, sejak, kala, sewaktu, saat)
15 KMB kuantitas dan kualitas ( sejauh, seluas,

sedalam, sekeras dsb.)

c) Kalimat majemuk campuran adalah gabungan kalimat

majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat
Macam :
1 Satu pola atasan, dua pola bawahan
Contoh : Saya suka gadis yang bermata bening dan

berambut panjang

1

2
Kami berkemah di lembah yang amat luas serta berpanorama

indah

2 Satu pola bawahan, dua pola atasan
Contoh : Ketika kakak mandi dan ibu

selesai memasak, ayah pulang
1

2

d) Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk

setara yang unsur-unsurnya dirapatkan
Macam :
1 KMR sama Subjek
Contoh : Gadis itu kalem, gadis itu pendiam
Gadis itu kalem dan pendiam
2 KMR Predikat
Contoh : Ayah berkumis, kakek berkumis
Ayah dan kakek berkumis
3 KMR Objek
Contoh : Kakek membaca buku, nenek merapikan buku
Kakek membaca buku dan nenek merapikannya
4 KMR Keterangan
Contoh : Kalau tidak mendung, Evi akan menonton

bioskop,
Kalau tidak mendung, aku ikut.
Kalau tidak mendung, Evi akan menonton bioskop dan aku

ikut

RESENSI

Resensi adalah sebuah karangan yang berisi ulasan

mengenai nilai sebuah karya/buku. Resensi dapat berarti

sebuah tulisan, ulasan, pembicaraan dan penilaian

tentang sebuah buku, film, atau pementasan drama.
Resensi : pertimbangan/perbincangan/ulasan
Tujuan resensi adalah mengulas dan menilai isi buku atau

film.

Yang diulas dalam resensi adalah :
1 Jenis buku (termasuk jenis fiksi atau ilmiah)
2 Format atau bentuk buku dan identitas buku

(judul, penerbit, pengarang, ukuran buku, halaman,

edisi, ilustrasi buku)
3 Isi dan bahasa (unsur-unsur intrinsik, struktur

kalimat, gaya bahasa, ungkapan, diksi, mudah tidaknya

dipahami)
4 Kesimpulan

Cara meresensi adalah:
1. Persiapan
a. Memilih buku
b. Membaca
c. Menghayati isi
d. Menilai
e. Menanggapi
f. Menyimpulkan
2. Pelaksanaan
a. Identitas buku
a) Judul buku
b) Jenis buku
c) Penulis/pengarang
d) Penerbit (nama penerbit, kota terbit, tahun,

edisi/cetakan)
e) Ukuran
f) Hal/tebal buku
b. Membuat sinopsis
c. Analisis dan penilaian
d. Kesimpulan

Struktur Resensi :
1. Pendahuluan (ada 6 informasi objektif) : judul,

penulis, penerbit, tahun, cetakan, tahun, tebal/halaman

buku
2. Isi :
Ulasan tentang judul/tema buku
Paparan singkat isi buku (mengacu pada daftar

isi]/gambaran tentang keseluruhan isi buku
Informasi latar belakang dan tujuan penulisan buku oleh

pengarang
Gaya penulisan/perbandingan bukudengan buku lain yang

bertema sama
3. Penutup (berisi penilaian buku secara

keseluruhan)
Kelebihan dan kekurangan buku
Memberi masukan, kritik kepada penulis/penerbit
Memberi pertimbangan kepada pembaca penting tidaknya

buku tersebut
Memberi saran penerbit akan perbaikan-perbaikan yang

perlu diadakan atas kelemahan yang ada

LAPORAN

Laporan adalah satu jenis karya tulis yang dibuat

setelah penelitian terhadap suatu bidang dilaksanakan.

Laporan dapat berarti jenis dokumen yang berisi paparan

peristiwa atau kegiatan yang telah dilakukan seseorang

atas dasar tanggung jawab yang telah dibebankan

kepadanya.
Jenis laporan :
1. Menurut bentuknya :
a. Formulir/blangko : diisi dengan uraian/angka dan

bersifat rutin (misalnya : absensi, kartu iuran,

tabungan, rapor)
b. Bentuk surat : laporan bentuk uraian panjang
c. Memorandum : laporan singkat/ringkas

2. Menurut cara penyampaian
Laporan lisan dan laporan tulisan
3. Menurut waktu pelaksanaan laporan
a. Laporan berkala/rutin
b. Laporan insidental/sewaktu-waktu
4. Menurut gaya penulisan
Laporan resmi dan tidak resmi

Ciri laporan yang baik :
1. Ditulis dengan bahasa yang baik dan jelas

sehingga tidak timbul salah pengertian.
2. Disertai dengan fakta yang akurat, relevan dan

meyakinkan
3. Informasi lengkap
4. Menarik dan enak dibaca

Struktur laporan
1. Halaman judul
2. Lembar persetujuan
3. Kata pengantar
4. Daftar isi
5. Ikhtisar atau bastrak
6. Pendahuluan
7. Isi
8. Kesimpulan dan saran
9. Daftar pustaka

Atau dapat tersusun sebagai berikut:
1. Hal judul (pokok dan topik laporan)
2. Kata pengantar (pengantar pihak penyusun dan

kalimat penyerahan)
3. Daftar isi (rekapitulasi hal-hal yang ada dalam

laporan)
4. Abstrak (ringkasan aspek-aspek yang dibahas

dalam laporan)
5. Pendahuluan
6. Isi (uraian kegiatan, waktu dan tempat, siapa

yang mengadakan, bagaimana pelaksanaannya, anggaran dsb)
7. Kesimpulan dan saran
8. Daftar pustaka
9. Lampiran-lampiran
LAPORAN KEGIATAN KUNJUNGAN
KE STUDIO RCTI JAKARTA

I. Nama/ jenis kegiatan :
II. Tujuan kegiatan :
III. Peserta kegiatan

:
IV. Pelaksanaan kegiatan :
Kegiatan kunjungan dilaksanakan pada
Hari dan tanggal

:
Berangkat pukul :
Pulang pukul

:
Sarana angkutan :
V Pembayaran dan penggunaan dana :
A. Sumber dana
1. Osis SLTP :
2. BP3 :
3. Peserta :
Jumlah :
B. Penggunaan Dana
1. Administrasi :
2. Sewa Bus :
3. Konsumsi :
4. Dokumentasi :
5. Lain-lain :
Jumlah :
VI. Hasil kunjungan

:
…………………..
Ketua Panitia

PENALARAN ARGUMENTASI

Penalaran argumentasi terbagi menjadi dua cara :
1. Penalaran secara induksi, adalah proses berpikir

dengan mengemukakan hal-hal khusus atau bagian-baian

menuju pada kesimpulan yang bersifat umum
Ada tiga jenis :
a. Generalisasi, mengemukakan peristiwa khusus

menuju pada kesimpulan umum / induksi.
b. Analogi, proses menghubungkan suatu peristiwa

dengan peristiwa lain yang mempunyai persamaan dalam

berbagai segi.
Contoh : kalau kita perhatikan kursi yang kita duduki

setiap hari tentu ada yang menciptakan. Mobil yang

sering kita tumpangi ada yang mencipta. Semua kejadian

ada yang menjadikan. Demikian juga manusia. Manusia

pasti ada yang menjadikan. Manusia menciptakan kursi,

meja, mobil dan sebagainya menunjukkan bahwa dirinya

memiliki kemampuan dan kekuasaan. Mahabesar pencipta

manusia yang maha memiliki kemampuan serta kekuasaan
c. Sebab akibat, mengemukakan peristiwa-peristiwa

hingga sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa-peristiwa

yang dikemukakan tersebut merupakan sebab dari suatu

keadaan atau sebaliknya bahwa peristiwa-peristiwa itu

merupakan akibat dari keadaan tertentu

2. Penalaran secara deduksi, adalah proses berpikir

dari hal-hal yang bersifat umum menuju pada

bagian-bagian atau hal yang bersifat khusus.
Ada 2 :
a. Silogisme adalah penarikan kesimpulanberdasarkan

pada suatu premis (pernyataan)
Premis ada dua :
(1) Premis umum/mayor, semua anggota

golongan tertentu mempunyai sifat atau hal tertentu
(2) Khusus /minor, seseorang atau sesuatu

adalah anggota golongan tertentu / hal tersebut.
Jenis silogisme :
(1) Silogisme positif, contoh :
P1=a-b Semua calon haji

membayar ONH
P2=c-a Pak Amin calon haji
K =c-b Pak Amin membayar ONH
(2) Silogisme negatif, bila salah satu premis

bersifat negatif , contoh:
P1= Semua pemilik motor tidak mendapatkan bensin
P2= Alung pemilik motor
K = Alung tidak mendapatkan bensin
(3) Silogisme salah, apabila premis tidak

dapat dipertanggungjawabkan atau tidak memenuhi syarat.
b. Entimem adalah silogisme yang diperpendek. Rumus

c=b karena c=a
Contoh : c = Dery, b = Tidak mau membolos, c =

Siswa yang baik
Deri tidak mau membolos karena

dia siswa yang baik
C B

C A

Memo

Memo singkatan dari memorandum (Surat singkat yang

digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu)
Pengertian Memo adalah surat peringatan tidak resmi yang

berisi pesan ringkas untuk berbagai keperluan. Memo

dapat berarti surat yang berisi catatan-catatan singkat

tentang pokok-pokok persoalan.
Jenis memo ada 2 :
1. Memo yang bersifat dinas
2. Memo yang bersifat pribadi

PARTIKEL

Partikel adalah semacam imbuhan yang dalam ucapan tidak

memiliki tekanan sendiri dan tidak merupakan kata karena

tidak berdiri sendiri.

Macam partikel dari klitika :
1. Lah, berfungsi : untuk menghaluskan perintah,

atau berfungsi menegaskan. Selain tiu digunakan untuk

membedakan.
Contoh : Pakailah ! Tataplah ! Dialah ! Andilah yang

datang (bukan orang lain)
2. Kah, berfungsi : untuk memberi tekanan pada

kalimat tanya, menyatakan hal tak tentu
Contoh : Haruskah aku melakukannya ? Mahalkah atau tidak

aku tak peduli !
3. Tah
4. Pun, berfungsi : untuk mengeraskan arti kata,

dipakai bersama –lah. Pun terpisah dari kata di depannya

(saya pun, kami pun dst.) tetapi ditulis serangkai

dengan kata hubung (walaupun, meskipun, sungguhpun

dst.). Pun juga berfungsi untuk menyamakan (Andi pergi,

Susi pun pergi )
Contoh : Kami pun merasa bersalah
Matahari pun terbitlah

Ada partikel yang berasal dari kata depan :
Atas, tentang, akan,

kepada, bagi, dari, dan lain-lain.
Fungsinya adalah :
1. untuk mempererat hubungan kata kerja dengan kata

benda di belakangnya
2. untuk memberi penjelasan
3. hanya pada kalimat aktif intransitif
4. sebagai pengantar pelengkap ( dibelakang

partikel adalah pelengkap, karena termasuk kalimat aktif

intransitif)
contoh : Aku tidak percaya akan setiap

janjinya
S

P PEL
Contoh : Anak-anak haus akan hiburan

terkenang akan
Ibu sayang akan

anak-anaknya berdiskusi tentang
Iwan setuju dengan usul

adik tidak percaya pada
Ia marah kepada saya

berterima kasih atas

Partikel ( lah, kah, tah ) ditulis serangkai dengan kata

yang mendahuluinya.
Contoh : bacalah, adalah, apakah, siapakah, apatah dst
Partikel -pun terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Contoh : satu kali pun, adik pun, ia pun, apa pun
Pun yang lazim dipadukan adalah : adapun, andaipun,

ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun,

maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun
Per yang berarti mulai, demi, tiap, ditulis terpisah

dengan kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh : per 1 April, satu per satu, per helai

RAGAM BAHASA

Ragam bahasa ada beberapa macam, yaitu :
Ragam bahasa pers (jurnalistik), ciri-ciri :
1. Singkat, padat, menarik, jelas
2. Terdapat kata-kata aktual

Bahasa sastra
1. Konotatif
2. Multi interpretasi
3. Subjektif
4. Bahasa indah
Bahasa ilmu pengetahuan
1. Denotatif
2. 1 penafsiran
3. Objektif
4. Bahasa lugas
Bahasa iklan
1. Singkat, padat, menarik
2. Menggunakan gaya bahasa hiperbola
3. Mengandung sugesti, kalimat pendek
4. Mudah dipahami (kalimat efektif)
5. Bersifat paparan

FUNGSI BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia dalam peranannya sebagai bahasa

persatuan mempunyai dua fungsi pokok :
1. Secara umum dan khusus
Secara khusus, mempunyai fungsi :
1. Praktis (alat komunikasi antarmasyarakat)
2. Estetis (alat pengungkap seni)
3. Sains (alat pengembang ilmu dan teknologi)
4. Filosofis (alat untuk menggali kebudayaan)
Secara umum, mempunyai fungsi :
1 Alat untuk menjalankan administrasi negara
2 Alat untuk mempersatukan suku
3 Wadah pembinaan sains dan teknologi

Sebagai bahasa negara dan bahasa nasional
Sebagai bahasa nasional:
1. Lambang kebanggaan nasional
2. Lambang identitas nasional
3. Alat pemersatu suku bangsa
4. Alat perhubungan antardaerah
Sebagai bahasa negara :
1. Bahasa resmi kenegaraan
2. Bahasa pengantar dunia pendidikan
3. Alat perhubungan tingkat nasional
4. Alat pengembangan budaya dan teknologi

PENANDA HUBUNGAN

Penanda hubungan mempunyai fungsi : memadukan antara

kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam satu

paragraf.

Macam penanda hubungan :
1. Menyatakan penunjukkan (penggunaan kata untuk

menunjuk atau mengacu kata lain).
Contoh : ini, itu, tersebut, tadi, di atas, berikut ini,

……maka belajar itu penting
2. Penggantian (dengan kata ganti orang,

klitika-nya, atau kata-kata seperti : ini, itu, sini,

situ, sana, begini, demikian dsb.)
Contoh :Nina anak pandai, ia berkuliah di UGM, tinggal

bersama kakaknya.
3. Pelesapan / elipsis (penghilangan unsur kalimat

yang tersurat pada kalimat berikutnya)
Contoh : Ahmad akan naik haji. Sesudahnya (Ahmad) akan

singgah di Singapura
4. Perangkaian (dinyatakan dengan kata-kata yang

merangkaikan kalimat satu dengan kalimat yang lain)
Contoh : perihal, sebaliknya, jadi, maka,

akibatnya, selain itu dan sebagainya.
Tutik tidak sarapan, akibatnya ia pingsan

IKLAN

Iklan adalah suatu pemberitahuan dari seseorang atau

badan usaha yang ditujukan kepada khalayak ramai

mengenai barang dan jasa yang dijual melalui media

massa. Iklan dapat berarti media informasi yang menarik

perhatiandan berfungsi untuk mengajak dengan menonjolkan

kata-kata.

Fungsi iklan adalah :
1. sebagai alat promosi
2. sebagai alat komunikasi
3. sebagai alat informasi
Jenis iklan :
1 Iklan pengumuman (untuk mengumumkan informasi

tertentu kepada masyarakat)
Contoh : reuni, pentas, lomba, bazar, diskon

besar-besaran dsb.
2 Iklan penawaran / reklame (untuk menawarkan

barang atau jasa)
Contoh : iklan sabun, rokok, kendaraan dsb.
3 Iklan permintaan (untuk mencari tenaga kerja

atau kebutuhan barang dan jasa kepada masyarakat)
Contoh : iklan lowongan kerja, dicari, dibutuhkan,

membuka lowongan dsb.

Ragam bahasa iklan :
1. Menarik, singkat, jelas dan tepat
2. Bahasa superlatif dengan ungkapan hiperbola

(paling, ter-, super, maha dsb)
3. Kalimat pendek, mengandung sugesti
4. Mudah dipahami (efektif)

POSTER

Poster adalah : surat tempel atau plakat yang dipasang

ditempat umum berupa pengumuman atau penawaran. Poster

berasal dari bahasa Inggris bersinonim dengan kata

placard, dalam bahasa Belanda disebut dengan plakkat

atau dalam bahasa Indonesia berarti surat tempel.

Tujuan membuat poster adalah :
1. Untuk menawarkan barang (poster rokok, permen

dsb)
2. Menghimbau atau memberitahu masyarakat (pajak,

kenaikan BBM, iuran, pemberitahuan dsb)
3. Mendidik masyarakat (jauhi narkoba, ikutlah

ber-KB)

Macam Poster :
1 Layanan masyarakat (penjelasan yang membentuk

kesadaran masyarakat tentang suatu hal yang menyangkut

kepentingan bersama). Contoh : pajak, KB dsb.
2 Informasi/ pengumuman (berisi kegiatan,

peristiwa yang akan dilaksanakan). Contoh : bazar,

lomba, pentas
3 Niaga (menawarkan barang dan jasa). Contoh :

iklan rokok, roti, permen, bank dsb.

Langkah menyusun poster :
1 Tentukan subjek (apa yang diposterkan)
2 Merumuskan pesan yang hendak disampaikan kepada

umum
3 Susun kalimat dengan singkat, padat, dan jelas

(inti masalah dapat dibaca sambil lalu)
4 Gunakan kata-kata membujuk / sugestif

SLOGAN
Perkataan atau kalimat pendek yang menarik dan mudah

diingat untuk memberitahukan sesuatu
Contoh : TVRI menjalin persatuan dan kesatuan
BNI kunci segala situasi
Pegadaian mengatasi masalah

tanpa masalah
SCTV ngetop !

IMBAUAN
Seruan atau ajakan kepada masyarakat luas untuk

melakukan sesuatu
Contoh : mari menabung
Sukseskan Wajar 9 tahun
Jagalah kebersihan
Gunakan BBM engan bijak
PIDATO

Pidato adalah salah satu bentuk komunikasi lisan untuk

menyampaikan pesan atau gagasan kepada pendengar.

Unsur pidato adalah :
1 Pembicara
2 Materi/bahan pidato
3 Audiens

Metode pidato :
1 Spontanitas / serta merta / impromtu : jenis

pidato tanpa persiapan/improvisasi
2 Ekstemporan : membuat catatan hal-hal penting,

atau membuat kerangka
3 Hafalan : menghafal naskah
4 Naskah : membaca teks, tidak terdapat interaksi

kontak sehingga membosankan

Macam pidato :
1 Persuasi (mengajak pendengar melaksanakan

sesuatu)
2 Bertindak (pidato persuasif berupa tindakan

nyata yang diinginkan)
3 Argumentasi (untuk meyakinkan pendengar agar

membenarkan pendapat pembicara)
4 Informasi (pidato untuk memberitahukan suatu

hal)
5 Rekreatif (pidato menghibur pendengar)

Hal-hal yang diperhatikan dalam berpidato :
1 Sikap (tenang, tatap mula, atur mimik)
2 Suara (sesuai dimensi ruang)
3 Bahasa (dapat dipahami, variatif)
4 Gaya(wajar, sopa, bersahabat)

Langkah dalam menyusun pidato :
1 Maksud atau tujuan
2 Analisis calon pendengar
3 Pilih dan pusatkan pokok masalah natau topik
4 Kumpulkan bahan
5 Buat kerangka pidato
6 Mengembangkan kerangka
7 Latihan mimik, vokal, gesture dan penyajian

Sistematika Pidato :
a. Salam pembuka
b. Sapaan kepada yang hadir

Pembukaan
c. Ucapan syukur

d. Tujuan/isi/manfaat

Inti Pidato
e. Harapan

f. Ucapan terima kasih
g. Permohonan maaf bila ada ucapan yang salah

Penutup
h. Salam penutup

Tujuan pidato :
1. Memberitahukan sesuatu kepada pendengar

(menginformasikan)
2. Menghibur audien
3. Mempengaruhi pendapat dan mengajak/membujuk

pendengar
4. Memotivasi, memberi semangat/dorongan moral

kepada pendengar
5. Meyakinkan pendengar
6. Mengajak melakukan tindakan /menggerakkan

pendengar

IMBUHAN

Imbuhan Ke-
Fungsi :
1 Membentuk kata bilangan tingkat ( kedua, ketiga,

ketujuh, kesepuluh)
2 Membentuk k.bil kumpulan ( kesebelas orang itu

terluka)
3 Membentuk k. benda ( kekasih, ketua, kehendak)
Nosi :
1 Menyatakan yang di- (kekasih, ketua, kehendak)
2 Menyatakan tingkat atau himpunan.

Imbuhan Pe-
Fungsi : Membentuk kata benda

Bentuk : pen-, peng, peny, pe, pem

Nosi :
1 Orang yang bekerja (petani, pelayan, pengarang,

penanam)
2 Alat (peneropong, penutup, pemancar, perasa)
3 Mempunyai sifat ( pemalu, pemarah, penakut)
4 Orang yang gemar (perokok, peminum, pemadat,

pecandu, pemabuk)
5 Yang menyebabkan (penyakit, pengharum,

penghalus)
Pe- tidak berubah didepan huruf : l, r, w, y, m, n (

pelari, perakit, pewaris, pemakan, penasihat)

Imbuhan Se-
Fungsi :
1 Sebagai kata keterangan (semalam ia datang)
2 Sebagai kata sambung (sesudah makan ia pergi)
3 Tidak mengubah jenis kata

Nosi :
1 Satu (sebuah, sehari, setelah, sekelompok,

sebatang, seorang)
2 Seluruh (se-Indonesia, sekampung, sedunia)
3 Sama dengan (sepandai, secantik, setinggi)
4 Sebanyak (semaumu, setahuku, sebisaku,

seingatku, semampuku)
5 Setelah (sesampai, seusai, sekembali, sekembali,

sepulang)

Imbuhan Me-
Fungsi : membentuk kata kerja transitif dan intransitif

Nosi :
1. Transitif :
1 Melakukan suatu perbuatan (menikam, mencium,

menanam, menyanyi, menulis)
2 Perbuatan dengan alat seperti kata dasar

(mencangkul, memarang, menyapu, menyabit, menombak)
3 Menghasilkan seperti kata dasar ( menyambal,

melotis, merujak)
2. Intransitif :
1. Mengerjakan sesuatu (menari, menyanyi,

merangkai, mendidik)
2. Menghasilkan (menelur, meringkik, mengeluh,

mendesah, dsb.)
3. Berbuat seperti (membatu, membabi buta, memerah,

menyatu)
4. Menghisap/ minum ( merokok, mengopi)
5. Dalam keadaan ( mengantuk, menganga )
6. Menuju ke arah (menepi, mendarat, menjauh)
7. Mencari / mengumpulkan (merotan, mendamar)
8. Memperingati (menujuh hari)
9. Menjadi (meninggi, memerah, mengencang,

mengeras, menghebat)

RANGKUMAN

Rangkuman yaitu : menyajikan kembali isi sebuah bacaan

secara singkat dengan kata-kata sendiri

Manfaat :
1. Mempermudah mengetahui isi sebuah bacaan
2. Memperpendek waktu jika akan membaca ulang

sebuah bacaan
3. Membantu jika memerlukan cara praktis dan cepat

Langkah-langkah :
1. Membaca secara keseluruhan bacaan yang akan

dirangkum
2. Mencari pikiran utama setiap paragraf
3. Menyusun kembali pikiran utama yang telah

ditemukan menjadi sebuah karangan

Hal-hal yang diperhatikan dalam menyusun rangkuman :
1. Sebaiknya dalam merangkum menggunakan kalimat

tunggal
2. Panjang rangkuman dapat disesuaikan dengan

panjang pendek bacaan yang dirangkum
3. Gagasan asli pengarang/penulis arus

dipertahankan
4. Penyusun rangkuman tidak boleh memasukkan

gagasan baru kedalam rangkumannya.

FAKTA DAN OPINI

Fakta yaitu : sesuatu hal yang nyata / peristiwa yang

benar-benar ada dan terjadi (segala hal yang

kebenarannya tidak disangsikan lagi.
Contoh :
Daerah pegunungan berhawa sejuk
Ombak pantai selatan sangat besar
Presiden Susilo Bambang Yudoyono berasal dari Pacitan

Opini yaitu : pendapat, pikiran seseorang mengenai suatu

hal yang belum tentu / belum pasti benar dan terjadi (

segala hal yang kebenarannya masih diragukan / belum

pasti ]
Ciri-ciri : agaknya, kira-kira, diharapkan, dapat ,

mungkin, tidak mustahil, barangkali, akan dsb.

ISTILAH

Istilah yaitu kata atau gabungan kata untuk

mengungkapkan suatu konsep, proses, keadaan, sifat yang

khas dalam bidang tertentu.
Contoh : hobi, fiksi, anjangsana, aklamasi, fiksi

Perbedaan kata dengan istilah :
Kata Istilah
Bermakna ganda
Bergantung pada konteks
Dapat terikat konotasi
Tiap daerah berbeda Bermakna satu (tunggal)
Tidak bergantung konteks
Netral
Dikenal secara umum/internasional

KATA KAJIAN (KATA ILMIAH) DAN KATA POPULER

Kata kajian (kata ilmiah) : kata yang biasa dipakai

untuk kepentingan kajian keilmuan (kata yang dipakai

dikalangan terbatas/ kalangan keilmuan)
Biasanya digunakan dalam laporan, skripsi, tesis,

desertasi
Contoh : rangking, evaluasi, volume, argumen, karakter

Kata populer : kata yang dikenal dan dipakai dalam

masyarakat luas
Contoh : peringkat, menilai, isi, pendapat, perangai.


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>